Latest Entries »

aku kecewa

aku kecewa.. pada penguasa! pada kekuasaan kalian yang mengatas namakan rakyat, menindas rakyat! menghisap rakyat! aku tak percaya pada bualan politik kalian yang bikin perutku muak!!!!

Bahlul dan Singgasana Khalifah
Suatu hari Bahlul tiba di istana Harun dan melihat singgasana khalifah kosong. Saat itu tidak seorang pun yang ada di tempat itu sehingga dapat mencegahnya untuk pergi ke singgasana sang khalifah. Memanfaatkan keadaan ini, tanpa ragu dan gentar ia mendekat ke singgasana dan duduk di atasnya. Tatkala para pelayan istana melihatnya, mereka berteriak dan mulai mencemetinya dan menurunkan dia dari singgasana tersebut. Bahlul mulai menangis. Harun datang dan melihat hal ini; ia bertanya pada orang-orang yang ada di sekeliling Bahlul yang menangis. Seorang budak menceritakan perisitiwa itu kepadanya. Harun menghajar mereka dan mencoba menghibur Bahlul. Bahlul berkata bahwa ia bukan menangisi dirinya, namun menangisi kondisi Harun. “Aku duduk di singgasana khalifah secara tidak sah untuk beberapa menit, menerima cemeti dan menderita kemalangan; namun Anda telah duduk di atas singgasana ini seumur hidupmu! Nestapa apa yang harus Anda terima, namun Anda masih belum takut akan akibatnya.” [www.wisdoms4all.com]

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pengembara!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayohlah datang, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
karena Akulah jalan itu.”
Rumi

KATANYA EMANSIPASI?? KOK TERNYATA EKSPLOITASI!!!..
pertanyaan ini menggambarkan dua momentum yang paradoks, Hari Kartini dan hari Bumi. di satu sisi kaum perempuan tengah euforia pada gagasan “kesetaraan” gender, lalu pertanyaanya adalah: kesetaraan seperti apa yang dimaui perempuan? sebagai ilustrasi, apakah agar benar-benar setara, perempuan juga akan narik becak?, jadi buruh bangunan? petinju kelas berat, presiden, atw kuli angkut? sementara ia tinggalkan tanggung jawab dan peran2 domestiknya sebagai ibu sekaligus guru pertama bagi anak2nya? atw yang seperti apa? bingung aku.. Kartini memang sudah lama pergi, tapi seandainya saja dia hidup di zaman ini, saya kira kok dia akan menangis menyaksikan nasib kaumnya, yang dulu dia perjuangkan (lewat tulisan-tulisanya), emansipasi yang didamkan Kartini dulu, ternyata hari ini berbuah eksploitasi! eksploitasi itu begitu telanjang di depan kita, lihatlah iklan mana yang tidak menyuguhkan tubuh wanita sebagai daya tarik?! masih banyak lagi bentuk2 yang lain, hemmhh.. tentang nasib Bumi? tak jauh beda dengan yang dialami kaum perempuan kita saat ini : sama-sama dieksploitasi demi kepetingan kaum pemodal!!! satu kata : LAWANN!!!

Malam

(Rabiah Al-‘Adawiyah)

Bintang di langit gemerlapan Orang telah bertiduran Pintu-pintu telah ditutup Pecinta telah menyendiri

Ketika aku ada di hadirat-Mu Sampai fajar menyingsing Siang segera menampakkan diri Aku gelisah soal amalanku

Bila diterima aku bahagia Bila ditolak aku sedih Demi kekuasann-Mu Kau beri aku kehidupan

Jangan usir aku dari pintu-Mu Aku tak akan pergi Karena cintaku kepada-Mu Telah memenuhi lorong hatiku

Cinta (Imam Ali bin Abi Thalib)

Cinta itu api, Apapun yang dilewatinya akan terbakar Cinta itu cahaya, Apapun yang dikenainya akan bersinar Cinta itu langit, Apapun yang dibawahnya akan ditutupinya Cinta itu seperti air…. denganya hidup segalanya, seperti bumi cinta dapat menumbuhkan segalanya..!!!

BANGUN dan bangkitlah Robohkan pondasi istana kaum kaya Didihkan darah kaum tertindas dengan api iman Ajarlah burung pipit berani melawan elang Saat rakyat berdaulat sudah dekat Hapuskan sisa-sisa hukum dan kebiasaan masa lalu Buanglah bulir gandum dan kebiasaan masa lalu Buanglah bulir gandum di tegalan Yang gagal memberi kehidupan kaum tani Kemudian arahkan pandang kepada para pendeta Dan singkirkan mereka dari gereja Sebab mereka berdiri bagai tirai besi yang memisahkan Tuhan dan manusia Padamkan lampu di semua kuil dan masjid Karena mereka mencoba menipu Tuhan dan berhala-berhala Dengan sujud dan bicara tanpa makna Aku muak dengan kemegahan palsu kuil pualam Bangunkan aku kuil dari tanah (Sir Muhammad Iqbal)Ya Allah, Tuhan orang-orang yang terampas! Engkau hendak merahmati Orang-orang yang terampas di dunia ini, Orang kebanyak yang bernasib tak berdaya Dan kehilangan hidup, Orang yang diperbudak sejarah, Korban-korban penindasan Dan penjarahan waktu, Orang-orang celaka di atas bumi ini, Menjadi pemimpin-pemimpin umat manusia Dan pewaris-pewaris bumi. Sekarang sudah tiba waktunya Dan orang-orang terampas di atas bumi ini Merupakan pengharapan akan janji-Mu (Ali Shari’ati)Di dalam bumi jauh, di sana Aku hidup antara logam tibar atau batu Menghirup semerbak bunga warna-warni Berkelana dengan kebuasan dan berjam-jam mengembara Di bumi, di udara, di wilayah samudra Ketika kelahiran baru menjelang Aku menyelam dan melayang Aku melata dan berlarian

Dan seluruh zatku pun tumbuh terbentuk Dalam sebuah bentuk kelahiran mereka semua Dan lihatlah itu seorang manusia Dan kemudian tujuanku Di atas awan-awan, di atas langit biru Daerah kekal tak mengenai maut memburu Ibarat malaikat; tak terikat waktu Walau siang dan malam berlalu Lewat hidup dan maut, gelap dan nyata Tempat semula asal semesta Sebagai Yang Tunggal dan Yang Segala (Mawlana Jalalluddin Rumi)

Lenin di Hadapan Tuhan (Sir Muhammad Iqbal)Wujud dan sifat-Mu, Tuhan Meruang di segala bidang Jadi ruh di dunia ini Betapa aku akan tahu selagi akal masih berputar Apakah kau ada atau tak ada Siapakah gerangan yang mendengar musik penciptaan semua ini Peneliti bunga atau penghitung bintang? Hari ini kutengok kerajaan dan negara Yang bagiku hanya tipu daya kaum gereja Sedang kami terpuruk, di penjara siang dan malam Kau, pencipta dan kekal, pesona sang zaman Tuhan, luangkan waktu sekejap menjawab pertanyaanku Yang selama ini membuat penasaran para cerdik pandai Tuhan…., selagi aku masih hidup dinaungi atap langit Hatiku gelisah penasaran Diamuk pikiran demi pikiran dalam jiwaku Tak ada satu negara pun yang sedang diperbincangkanya Siapakah sebenarnya manusia itu Yang bertuhan kepada-Mu Itukah mahkluk yang dibentuk dari debu kolong langit-Mu ini: Seorang Prancis pucat dewa sang timur Logam berkilau dewa negeri magribi Dimanakah nyala terang pelita ilmu Gelap gulita oleh sumber kehidupan! Dalam kesyahduan, bujuk, dan senang gembira Bank berkilau melebihi kilau Rumah-Mu, Tuhan, Mereka bermain dengan batu-batu dadu Untung untuk seorang, celaka bagi ribuan orang ilmu, filsafat, kuliah, dan konstitusi mengajarkan kesetaraan manusia, tapi menghisap darah bersenang-senang telanjang mabuk kepayang, kebutuhan dan menganggur itulah kemengan gemilang negeri magribi! Amboi.. benua tak kunjung diberkahi cahaya nazari Hasil kerisnya bergantung pada uap dan listrik Alat-alat itu dipuja dan dirawat Bagai beban bertambah berat Pemain catur kehilangan rencana dan siasat Dan jari-jari si Tua Bangka lemah menadahkan mangkuk Wajah senjakala magribi dicat merah Mukjizat anggur dalam kendi selalu mengimbau: Yang Maha Kuasa, Yang Adil, KAU! Betapa pahit zaman ini pahit Terhambar jam dan waktu buruh, Kini terikat dalam dunia-Mu Bilakah runtuh dan karam “kapal kerajan emas ini?” DUNIAMU HARI PEMBALASAN-MU, TUHAN BERDIRI DAN MENUNGGU!

Metamorfosis

(Thufail Al-Ghifari)

menjadi karanglah meski tidak mudah,

sebab ia kan menahan sengat binar mentari yang garang,

sebab ia kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa

tanpa kenal lelah

melawan bayu yang keras menghembus

dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan

sebab keteguhanya kan menahan hempas badai yang datang

menggerus/ terus menerus

terjagalah dari segala maksiat

dai segala zina dan nafsu dunia yang sesat

disatukan dalam karunia yang suci

bersama jiwa-jiwa yang selalu haus akan ibadah

dan penuh harga diri

ini bukan cerita cinderlla bukan pula patah arang cinta buta siti nurbaya
tak dapat diukur tapi bersama Allah semua pasti teratur

dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam View full article »

Kita menjadi tahu bahwa mutiara memiliki nilai yang sangat berharga setelah ada orang yang menyelam jauh di kedalaman hingga dasar laut. Bahkan sekiranya kulit kerang yang membungkus mutiara itu tidak dikupas atau dipisahkan dari isinya, maka tinggallah kerang hanya menjadi mahkluk yang tak diperhatikan dan dilupakan orang. Nampaknya inilah gambaran yang juga berlaku bagi manusia. Kita pun tidak akan pernah tahu apakah diri kita bernilai atau tidak sampai kita mampu memahami hakikat saripati kehidupan yang kita jalani ini. Kepahaman ini dapat kita capai bila kita mau menyelam di kedalaman samudra jiwa, menemukan mutiara-mutiara yang mungkin saja terpendam oleh lumpur-lumpur yang menyelubungi diri kita. Menghirup nafas-nafas yang mengaliri kehidupan, mencerap saripati hidup, menjadikan diri kita sadar bahwa sesungguhnya hidup yang tengah kita jalani adalah begitu berarti. Mestinya. Kita akan memahami bahwa sesungguhnya hidup kita berhutang pada banyak bentuk kehidupan lain di dunia sini atau dunia sana.

Ku ingin ceritakan padamu

kawan..

Tentang hujan yang turun sore itu

Tahukah kau

Apa yang kulakukan bila hujan tiba

aku jatuh bersama titik air

diserap tanah

Hanyut mengaliri sungai

dihantam bebatuan

dipecah gelombang dan ombak

dipukul badai

dan akhirnya

tenggelam ditelan laut

membiru batu

lalu menggelepar lapar

berbuih letih

aku terdampar, terkapar, nanar

di pantai pasir tak bernama tak bertuan

dan akupun lupa jalan pulang…

dua6rz7gf6.jpg

Terjemah Doa Kumayl (Renungan Sufistik)

Ya Allah, aku bermohon pada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Dan dengan Kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu
Dan merunduk segala sesuatu
Dan merendah segala sesuatu
Dan dengan keagungan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu
Dan dengan kemuliaan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu
Dan dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu
Dan dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu
Dan dengan wajah-Mu yang kekal setelah fana segala sesuatu
Dan dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesuatu
Dan dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu
Dan dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu
Wahai Nur, Wahai Yang Maha Suci
Wahai Yang Awal dari segala yang awal dan Wahai Yang Akhir dari segala yang akhir
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku penyebab hukum karma
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merintangi doa
Ya Allah, ampinilah dosa-dosaku yang menurunkan bencana
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang memutuskan tali harapan
Ya Allah, ampunilah segala dosa yang telah kulakukan
Dan segala kesalahan yang telah kukerjakan
Ya Allah, aku datang menghampiri-Mu dengan berdzikir (kepada)-Mu
Kumohon pertolongan pada diri-Mu.

View full article »